Sinergi Percepat Layanan Kapal

BERITAFOTO.ID - Kapal datang dan pergi. Di balik pergerakan tersebut, ada rangkaian proses yang harus berlangsung tepat waktu agar satu kapal dapat meninggalkan tambatan dan kapal berikutnya segera masuk untuk melakukan kegiatan operasional.

Di pelabuhan, waktu menjadi bagian penting dari pelayanan. Setiap menit dalam proses pergantian kapal dapat berpengaruh terhadap pemanfaatan tambatan, kelancaran arus kapal, hingga produktivitas terminal.

Karena itu, mempercepat pelayanan kapal bukan sekadar memangkas waktu pada satu tahapan pekerjaan. Dibutuhkan koordinasi banyak pihak, perencanaan yang presisi, serta kemampuan untuk memantau setiap proses secara berkelanjutan.

Di Pelabuhan Tanjung Perak, upaya tersebut terus diperkuat.

PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama para pemangku kepentingan kepelabuhanan di Tanjung Perak memperkuat kolaborasi melalui kegiatan Evaluasi Bersama Pelayanan Kapal dan Evaluasi Penerapan Zona EAZI (Express Anchorage Zone Service), Kamis (1/10).

Pertemuan tersebut mempertemukan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak, Distrik Navigasi Tipe A Kelas I Tanjung Perak, Regional 3 PT Pelabuhan Indonesia (Persero), serta PT Pelindo Jasa Maritim.

Bukan sekadar pertemuan untuk membahas capaian, forum tersebut menjadi ruang bersama untuk melihat bagaimana pelayanan kapal berjalan, mengevaluasi penerapan Zona EAZI, sekaligus mencari ruang perbaikan yang dapat dilakukan secara bersama-sama.

Bagi TTL, pelayanan kapal merupakan sebuah rangkaian yang melibatkan banyak pihak. Karena itu, setiap upaya percepatan harus dibangun melalui koordinasi dan sinergi, bukan berdiri sendiri.

Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, menyampaikan bahwa percepatan pelayanan kapal merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan di bidang kepelabuhanan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penerapan Zona EAZI. Penerapan zona tersebut mulai memberikan dampak positif terhadap penurunan port stay dan manfaatnya telah dirasakan oleh pengguna jasa.

“TTL bersama seluruh pemangku kepentingan terus melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pelayanan kapal melalui kolaborasi yang kuat guna menghadirkan pelayanan yang semakin cepat, aman, andal, dan kompetitif,” ujar David Sirait.

Di lapangan, upaya tersebut mulai terlihat dari capaian penerapan Zona EAZI di sejumlah terminal.

Di TPK Nilam, penerapan Zona EAZI pada periode 23 April hingga 31 Agustus 2026 telah mendukung pelayanan terhadap 176 kapal.

Dalam periode tersebut, rata-rata waktu STS tercatat 2 jam 53 menit.

Angka tersebut tidak berdiri sendiri. Penerapan Zona EAZI juga berkontribusi terhadap peningkatan rata-rata jumlah kapal yang masuk ke dermaga, dari 14 menjadi 17 kapal, atau meningkat sekitar 21,4 persen.

Setiap pergantian kapal yang dapat dilakukan dengan lebih efektif membuka ruang bagi kapal berikutnya untuk segera mendapatkan pelayanan. Di sinilah efisiensi waktu bertemu dengan kebutuhan untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas tambatan.

Penerapan EAZI juga diuji di TPK Berlian.

Pada periode 4–31 Agustus 2026, uji coba Zona EAZI mencatat pelayanan terhadap 16 kapal dengan rata-rata waktu STS sebesar 2 jam 24 menit.

Capaian tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan menuju target waktu STS 2 jam. Pada saat yang sama, hasil uji coba menunjukkan kontribusi penerapan Zona EAZI dalam mengoptimalkan proses pergantian kapal di tambatan.

Dalam evaluasi pelayanan tersebut, ada satu ukuran waktu yang menjadi perhatian: STS atau ship-to-ship berth changeover.

Istilah tersebut merujuk pada waktu pergantian kapal pada tambatan yang sama, yang dihitung sejak last line kapal sebelumnya hingga first line kapal berikutnya.

Dengan ukuran tersebut, proses pergantian kapal dapat dilihat secara lebih terukur. Berapa lama waktu yang dibutuhkan sejak kapal sebelumnya selesai meninggalkan tambatan hingga kapal berikutnya berhasil berada pada posisi untuk memulai kegiatan.

Namun, angka waktu pelayanan hanyalah salah satu bagian dari cerita. Di baliknya terdapat koordinasi yang harus dilakukan oleh berbagai pihak agar proses tersebut berjalan sesuai rencana.

Karena itu, evaluasi dilakukan secara bersama dan berkelanjutan.

Group Head Pelayanan Kapal PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Santoso, menyampaikan bahwa kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi salah satu kunci dalam menghadirkan pelayanan terbaik bagi pengguna jasa.

“Kolaborasi antarpemangku kepentingan merupakan suatu keniscayaan untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna jasa. Evaluasi secara berkelanjutan penting dilakukan agar setiap improvement yang diterapkan benar-benar mampu meningkatkan kualitas layanan dan memberikan pengalaman terbaik bagi customer TTL,” jelas Santoso.

Kolaborasi kemudian diterjemahkan dalam penguatan proses perencanaan dan pemantauan.

TTL terus mendorong integrasi perencanaan tambat dengan Zona EAZI, yang didukung pemantauan perencanaan dan realisasi tambat secara real time.

Pada saat yang sama, penguatan Berthing Management terus dilakukan untuk mendukung pengelolaan tambatan secara lebih optimal.

Tujuannya adalah meningkatkan kepastian pelayanan, mengoptimalkan pemanfaatan tambatan, serta mendukung efisiensi operasional kapal yang berkegiatan di PT Terminal Teluk Lamong.

Dalam ekosistem pelayanan kapal, koordinasi juga membutuhkan keterlibatan regulator dan otoritas pelabuhan. Karena itu, evaluasi bersama menjadi penting untuk memastikan berbagai upaya perbaikan dapat berjalan dalam satu arah.

Kepala Kantor KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, mengapresiasi inisiatif PT Terminal Teluk Lamong dalam menyelenggarakan Evaluasi Bersama Pelayanan Kapal dan Evaluasi Penerapan Zona EAZI sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kapal secara berkelanjutan.

“Terima kasih kepada PT Terminal Teluk Lamong yang telah menyelenggarakan kegiatan evaluasi ini. Implementasi EAZI telah memberikan pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan layanan kapal. Kolaborasi seluruh stakeholder menjadi kunci untuk terus menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi pengguna jasa,” ujar Agustinus.

Dari ruang evaluasi, pembahasan kemudian bermuara pada satu kebutuhan yang semakin penting dalam pengelolaan pelabuhan: bagaimana membuat informasi dan proses pelayanan dapat terhubung satu sama lain.

Sebab, semakin banyak proses yang harus dikoordinasikan, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem yang mampu menyajikan informasi secara cepat dan terintegrasi.

Di sinilah digitalisasi mengambil peran.

TTL terus mengembangkan BESTI (Berth Allocation Efficiency & Support Terminal Integration), sebuah aplikasi yang mendukung proses perencanaan dan pengelolaan tambatan kapal secara terintegrasi.

BESTI menjadi bagian dari upaya TTL untuk memperkuat proses perencanaan tambatan. Sistem tersebut dikembangkan agar proses pengelolaan tambatan dapat didukung oleh informasi yang terintegrasi, mulai dari perencanaan hingga realisasi pelayanan.

Ke depan, BESTI akan dikembangkan agar dapat terhubung dengan PHINISI, Inaportnet, dan Zona EAZI.

Rencana tersebut bukan semata tentang menghubungkan sejumlah aplikasi. Lebih jauh, integrasi diharapkan dapat memperlancar pertukaran informasi di antara berbagai sistem dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelayanan kapal.

Dengan informasi yang semakin terhubung, proses perencanaan hingga realisasi pelayanan kapal diharapkan dapat dipantau secara real time.

Perubahan tersebut penting karena aktivitas kapal di pelabuhan berlangsung secara dinamis. Kondisi di lapangan dapat berubah, sementara keputusan pelayanan harus tetap dilakukan dengan cepat dan berdasarkan informasi yang tersedia.

Melalui integrasi digital, koordinasi antarpemangku kepentingan diharapkan dapat berlangsung lebih efektif. Perencanaan tambat dapat diselaraskan dengan kondisi operasional, sementara realisasi pelayanan dapat dipantau untuk memastikan proses berjalan sesuai rencana.

Pada akhirnya, Zona EAZI dan BESTI berada dalam satu rangkaian upaya yang sama: menciptakan pelayanan kapal yang semakin terukur, terkoordinasi, dan terintegrasi.

Data penerapan EAZI di TPK Nilam dan TPK Berlian menjadi bagian dari proses evaluasi. Pengalaman di lapangan memberikan gambaran mengenai capaian sekaligus ruang yang masih dapat dikembangkan.

Sementara itu, penguatan Berthing Management dan pengembangan BESTI menjadi langkah berikutnya untuk memastikan proses perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan dapat berjalan semakin terhubung.

Semua itu kembali pada kebutuhan paling dasar dalam pelayanan kapal: kepastian waktu.

Ketika satu kapal selesai melakukan aktivitasnya dan meninggalkan tambatan, kapal berikutnya membutuhkan kepastian kapan dapat masuk dan memulai kegiatan. Di antara dua proses tersebut terdapat koordinasi banyak pihak, keputusan operasional, serta pertukaran informasi yang harus berlangsung secara tepat.

Karena itu, percepatan pelayanan kapal bukan hanya tentang membuat sebuah proses menjadi lebih cepat. Percepatan juga berarti membangun koordinasi agar setiap pihak dapat bergerak pada waktu yang tepat.

Di Pelabuhan Tanjung Perak, proses tersebut terus dibangun melalui evaluasi, kolaborasi, inovasi, dan digitalisasi.

TTL bersama KSOP Utama Tanjung Perak dan seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi untuk membangun ekosistem pelayanan kapal yang semakin terintegrasi, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna jasa.

Dari kapal yang datang, pergantian di tambatan, hingga kapal kembali berlayar, setiap tahapan membutuhkan koordinasi yang saling terhubung.

Dan di balik setiap upaya mempercepat waktu pelayanan, terdapat satu tujuan yang sama: memastikan roda pelayanan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak terus bergerak dengan semakin cepat, efisien, pasti, aman, andal, dan terpadu.

Integrasi digital tersebut diharapkan semakin memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan, meningkatkan kepastian pelayanan, serta mendorong layanan kapal yang lebih cepat, efisien, dan terpadu di Pelabuhan Tanjung Perak.

Editor :

Berita Terbaru

Hidangan gratis bagi pejuang jalanan

Batik Fest 2026

Peristiwa

Seni Budaya

Batik Fest 2026

Berita Populer

01

Menyapa Hari Batik Nasional, KAI Daop 8 Ajak Penumpang di Stasiun Surabaya Gubeng Belajar Membatik

02

Hidangan gratis bagi pejuang jalanan

03

BPBD Kota Surabaya Edukasi Mitigasi Bencana ke Pekerja Hotel

04

Konferensi pers kasus kejahatan penyalahgunaan narkoba

05

Festival PMR Kota Surabaya

beritafoto.id skyscraper
beritafoto.id skyscraper