Sebelum Mengejar Foto Bagus, Belajarlah Melihat

Julian Romadhon
Julian Romadhon

BERITAFOTO.ID - Fotografi sering kali dipahami secara sederhana: mengarahkan kamera, menekan tombol, lalu sebuah gambar tercipta. Sesederhana itu kelihatannya. Namun, bagi mereka yang benar-benar menjadikan fotografi sebagai cara melihat dunia, memotret bukan sekadar urusan kamera dan lensa.

Fotografi adalah tentang memilih apa yang layak diingat.

Foto Jurnalistik, Bukan Sekadar Jepret

Setiap kali tombol rana ditekan, fotografer sebenarnya sedang membuat keputusan. Dari begitu banyak peristiwa yang berlangsung dalam satu detik, ia memilih satu potongan kecil untuk dibekukan. Orang-orang bergerak, cahaya berubah, ekspresi datang dan pergi, tetapi satu momen dipaksa berhenti di dalam sebuah bingkai.

Di situlah fotografi menjadi menarik.

Sebuah foto pada dasarnya adalah perlawanan kecil terhadap waktu.

Waktu selalu berjalan. Wajah berubah, bangunan bisa runtuh, seseorang yang hari ini berada di samping kita suatu hari mungkin hanya tinggal kenangan. Tetapi fotografi memberikan kesempatan kepada manusia untuk berkata: tunggu sebentar, biarkan momen ini tetap ada.

Karena itu, foto yang baik tidak selalu harus indah.

Foto yang kuat justru terkadang hadir dari sesuatu yang biasa. Seorang pedagang yang mengusap keringat. Anak kecil yang tertidur di pangkuan ibunya. Seorang pekerja yang pulang ketika langit mulai gelap. Wajah seorang ayah yang diam-diam memperhatikan anaknya.

Tidak ada yang spektakuler.

Tetapi di dalam kesederhanaan itu terdapat cerita.

Fotografi Dimulai dari Mata, Bukan Kamera

Banyak orang mengira untuk menghasilkan foto yang bagus, seseorang harus memiliki kamera mahal. Padahal, kamera hanyalah alat.

Fotografi sesungguhnya dimulai jauh sebelum tombol rana ditekan.

Ia dimulai dari mata.

Seorang fotografer harus belajar melihat sesuatu yang sering kali dilewatkan orang lain. Cahaya yang jatuh di wajah seseorang. Bayangan yang membentuk cerita. Gestur kecil. Ruang kosong. Ekspresi yang hanya muncul sepersekian detik.

Kamera tidak mengajarkan seseorang untuk melihat.

Sebaliknya, fotograferlah yang harus mengajarkan dirinya sendiri untuk melihat.

Itulah sebabnya dua orang bisa berdiri di tempat yang sama, melihat objek yang sama, bahkan menggunakan kamera yang sama, tetapi menghasilkan dua foto yang sama sekali berbeda.

Perbedaannya bukan pada kameranya.

Perbedaannya ada pada cara mereka melihat.

Fotografi adalah Seni Memilih

Dalam fotografi, seseorang sebenarnya tidak hanya memilih objek. Ia memilih cahaya, sudut pandang, jarak, waktu, komposisi, bahkan kapan harus menekan tombol dan kapan harus menunggu.

Menariknya, terkadang foto terbaik justru lahir ketika fotografer memilih untuk tidak memotret.

Ada momen yang terlalu pribadi untuk dijadikan gambar. Ada kesedihan yang seharusnya dihormati, bukan dieksploitasi. Ada penderitaan manusia yang membutuhkan empati sebelum membutuhkan kamera.

Di titik ini, fotografi bukan lagi sekadar persoalan estetika.

Ia menyentuh persoalan etika.

Seorang fotografer memiliki kekuatan untuk membuat seseorang terlihat sebagai manusia, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menjadikannya sekadar objek.

Karena itu, fotografi yang baik membutuhkan kepekaan.

Bukan hanya kepekaan terhadap cahaya, tetapi juga terhadap manusia.

Jangan Terlalu Sibuk Mengejar Foto yang "Bagus"

Di era media sosial, fotografi sering terjebak pada perlombaan visual.

Foto harus tajam. Warna harus menarik. Langit harus dramatis. Komposisi harus sempurna. Foto harus mendapatkan banyak "likes".

Akibatnya, kita terkadang lupa bahwa sebuah foto tidak harus sempurna untuk menjadi berarti.

Ada foto yang secara teknis buruk, tetapi secara emosional sangat kuat.

Ada foto yang sedikit blur, tetapi menyimpan kenangan tentang seseorang yang sudah tidak ada.

Ada foto dengan pencahayaan yang tidak ideal, tetapi justru menjadi satu-satunya bukti bahwa sebuah peristiwa pernah terjadi.

Maka, ukuran foto yang baik seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: "Apakah foto ini bagus?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah foto ini mengatakan sesuatu?"

Sebab fotografi bukan lomba membuat gambar paling cantik.

Fotografi adalah usaha membuat gambar memiliki arti.

Bagaimana Seharusnya Kita Belajar Fotografi?

Belajar fotografi tentu membutuhkan pemahaman teknis. Kita perlu mengetahui bagaimana aperture bekerja, bagaimana shutter speed mengendalikan gerakan, bagaimana ISO memengaruhi cahaya dan noise, bagaimana lensa memengaruhi perspektif, serta bagaimana komposisi membangun perhatian mata.

Tetapi memahami kamera hanyalah tahap pertama.

Setelah itu, seseorang perlu belajar memahami cahaya.

Kemudian belajar memahami ruang.

Lalu belajar memahami manusia.

Dan pada akhirnya, belajar memahami dirinya sendiri.

Sebab gaya fotografi seseorang sering kali merupakan cerminan dari cara ia memandang kehidupan.

Fotografer yang gemar memotret jalanan mungkin sedang mencari cerita di tengah keramaian. Fotografer potret mungkin tertarik pada karakter manusia. Fotografer dokumenter mungkin memiliki kegelisahan terhadap realitas sosial.

Dengan kata lain, fotografi tidak hanya memperlihatkan apa yang dilihat fotografer, tetapi sering kali juga memperlihatkan apa yang dirasakan fotografer.

Kamera Bisa Membekukan Waktu, tetapi Tidak Bisa Mengulanginya

Ada ironi dalam fotografi.

Kita memotret karena ingin menyimpan waktu. Tetapi sebuah foto juga mengingatkan kita bahwa waktu tidak pernah benar-benar bisa disimpan.

Foto masa kecil mengingatkan bahwa kita pernah kecil.

Foto orang tua mengingatkan bahwa mereka pernah muda.

Foto sebuah tempat mengingatkan bahwa tempat itu pernah seperti itu.

Foto seseorang terkadang menjadi begitu berharga justru ketika orang tersebut sudah tidak bisa kita temui lagi.

Pada akhirnya, fotografi bukan tentang menghentikan waktu.

Fotografi hanya memberi kita sebuah bukti bahwa kita pernah berada di sana.

Pernah melihat.

Pernah merasakan.

Pernah bersama.

Dan pernah mengalami sesuatu yang tidak akan pernah terjadi dengan cara yang sama untuk kedua kalinya.

Mungkin itulah alasan manusia sejak dulu begitu tertarik pada fotografi.

Kita tahu bahwa hidup akan terus bergerak dan kenangan perlahan memudar. Maka kita menciptakan foto sebagai cara sederhana untuk berkata kepada masa lalu:

"Aku tidak bisa membuatmu kembali, tetapi setidaknya aku masih bisa mengingatmu."

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah hakikat fotografi.

Bukan tentang kamera paling mahal.

Bukan tentang lensa paling tajam.

Bukan pula tentang foto yang paling ramai dipuji.

Fotografi adalah tentang cara manusia memberi kesempatan kepada sebuah momen untuk hidup sedikit lebih lama.

 

Ulasan: Julian Romadhon

Editor :

Berita Terbaru

Pertagas Peduli Warga NTT

Peristiwa

Pencarian Jurnalis Hilang 

Seni Budaya

Berita Populer

01

Gotong Royong Bersihkan Sungai Rolak Surabaya

02

PFI Surabaya Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

03

Sebelum Mengejar Foto Bagus, Belajarlah Melihat

04

TNI AL Gelar Apel Siaga di HUT ke 81

05

Foto Jurnalistik, Bukan Sekadar Jepret

beritafoto.id skyscraper
beritafoto.id skyscraper