BERITAFOTO.ID - Ada satu pertanyaan yang beberapa hari terakhir terus muncul di media sosial, setelah lima jurnalis dan tiga kru kapal hilang ketika hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Sudah tahu gunung meletus, kok malah didatangi?”
“Sudah tahu berbahaya, kok malah mendekat?”
Pertanyaan itu mungkin muncul dari naluri yang sangat manusiawi. Ketika kita tahu sebuah tempat berbahaya, secara alamiah kita ingin menjauh darinya.
Tetapi ada satu hal yang mungkin perlu kita pahami bersama: memang ada pekerjaan yang mengharuskan seseorang datang ketika orang lain memilih pergi.
Salah satunya adalah wartawan. Selama 18 tahun menjadi fotojurnalis, saya belajar bahwa seorang wartawan sering kali harus berjalan menuju tempat yang secara naluriah ingin kita tinggalkan.
Bukan karena kami tidak takut. Bukan karena kami merasa kebal. Dan bukan karena sebuah foto atau berita lebih berharga daripada nyawa manusia.
Tetapi karena ada peristiwa yang harus dilihat. Ada manusia yang harus didengar. Ada kenyataan yang harus disaksikan. Dan ada masyarakat yang perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Coba bayangkan sebuah peristiwa bencana. Kita berada jauh dari sana. Mungkin sedang duduk di rumah. Di kantor. Di warung kopi. Atau bahkan rebahan di tempat tidur sambil menggulir layar ponsel. Lalu muncul sebuah foto.
Gunung yang memuntahkan abu. Laut yang berubah menjadi medan pencarian. Rumah-rumah yang hancur. Seorang ibu yang menggendong anaknya meninggalkan rumah.
Kita melihat semuanya dari layar kecil di tangan kita. Lalu kita menggeser layar. Melihat foto berikutnya. Membaca berita berikutnya. Mungkin memberi tanda suka. Mungkin membagikannya. Lalu hidup kita kembali berjalan.
Tetapi kita kadang lupa bahwa foto yang kita lihat dengan nyaman dari layar ponsel dibuat oleh seseorang yang berdiri di tempat itu.
Ada manusia di balik kamera. Ada seseorang yang mendengar suara ledakan yang sama. Menghirup udara yang sama. Menghadapi hujan, panas, debu, asap, ombak, kepanikan, dan ketidakpastian yang sama.
Foto itu tidak lahir dari layar ponsel kita. Foto itu lahir dari sebuah tempat. Dan di tempat itu, ada seorang manusia yang hadir untuk membuat kita bisa melihat.
Ada teori komunikasi yang sangat terkenal: agenda-setting. Gagasan ini kemudian dikembangkan dan diuji oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw melalui penelitian mereka pada 1968.
Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa media mungkin tidak selalu menentukan apa yang harus kita pikirkan, tetapi memiliki kekuatan besar dalam menentukan apa yang kita pikirkan.
Media membantu membawa suatu persoalan ke ruang perhatian publik. Sebuah bencana yang terjadi jauh dari Jakarta bisa menjadi pembicaraan nasional karena ada orang yang datang ke sana dan mengabarkan apa yang dilihatnya.
Sebuah konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya bisa menjadi sesuatu yang kita pahami karena ada reporter dan fotografer yang berada di tengah-tengahnya.
Sebuah penderitaan yang tidak pernah kita alami sendiri bisa menjadi nyata bagi kita karena seseorang membawa kesaksiannya pulang.
Itulah salah satu fungsi jurnalistik: menjadi saksi, membawa kesaksian, dan membuat sesuatu yang terjadi di tempat lain menjadi bagian dari pengetahuan publik.
Karena itu, keberadaan jurnalis di lokasi bencana bukan semata-mata soal mencari gambar dramatis. Ada fungsi publik di dalamnya: menghadirkan informasi ketika keadaan normal terganggu.
Robert Capa, salah satu fotografer perang paling terkenal dalam sejarah, pernah mengatakan: “If your pictures aren’t good enough, you aren’t close enough.” Kalimat itu kemudian menjadi semacam mantra dalam dunia fotografi.
Tetapi setelah 18 tahun memegang kamera untuk bekerja, saya tidak lagi memaknainya sekadar sebagai ajakan untuk berdiri lebih dekat dengan bahaya. Bagi saya, “dekat” adalah tentang kedekatan dengan kenyataan.
Kita tidak bisa memotret perang dari ruang tamu atau memahami pengungsian hanya dari statistik dan siaran pers.
Ada titik di mana seorang jurnalis harus hadir. Melihat sendiri. Mendengar sendiri. Menyaksikan sendiri. Kemudian pulang membawa kesaksian itu. Tentu, keberanian tidak sama dengan kecerobohan.
Tetapi keberadaan risiko juga tidak serta-merta membuat pekerjaan jurnalistik menjadi pekerjaan yang tidak masuk akal.
Pemadam kebakaran masuk ketika orang lain keluar. Tim SAR bergerak ketika orang lain menunggu. Dokter mendatangi orang yang membutuhkan pertolongan.
Dan jurnalis masuk ke tempat-tempat yang sedang mengalami peristiwa besar, termasuk ketika tempat itu penuh risiko, untuk memberi tahu publik apa yang sedang terjadi.
Masing-masing profesi memiliki fungsi yang berbeda. Tetapi ada satu persamaan: Mereka berada di sana karena ada kepentingan manusia lain yang harus dilayani.
Sejarah jurnalistik dunia menyimpan banyak nama yang mengingatkan kita tentang hal tersebut. Chris Hondros adalah salah satunya. Ia adalah fotografer perang yang selama bertahun-tahun bekerja di berbagai wilayah konflik.
Liberia, Irak, Afghanistan, Libya. Pada 20 April 2011, Hondros berada di Misrata, Libya, meliput pertempuran ketika sebuah ledakan mortir menghantam lokasi tempat ia bekerja.
Ia meninggal akibat luka-lukanya. Pada hari yang sama, fotografer Tim Hetherington juga tewas dalam serangan tersebut.
Dua orang fotografer yang pergi ke sebuah tempat perang bukan karena perang itu aman, melainkan karena perang itu sedang terjadi dan dunia perlu melihatnya.
Hondros bahkan pernah menjadi finalis Pulitzer dan menerima Robert Capa Gold Medal untuk karya-karyanya. Hari ini kita mengenang nama mereka melalui foto-foto yang mereka tinggalkan.
Tetapi ketika kita melihat foto itu, kita sering lupa bahwa sebelum menjadi sebuah gambar yang bersejarah, foto tersebut adalah pengalaman hidup seseorang.
Ada tubuh di belakang kamera. Ada rasa takut. Ada keluarga yang menunggu. Ada seseorang yang suatu hari mungkin tidak kembali.
Karena itu, ketika membaca komentar, “Sudah tahu berbahaya, kok malah datang?”, saya ingin mengajak kita berhenti sejenak. Bayangkan jika semua orang yang bekerja mendokumentasikan tempat berbahaya memilih untuk tidak datang.
Siapa yang akan menunjukkan kepada kita seperti apa keadaan di sana? Siapa yang akan memperlihatkan wajah para korban? Siapa yang akan mencatat kesaksian mereka?
Tentu saja, tidak semua peristiwa harus didekati. Tidak semua gambar harus diperoleh dengan berdiri paling depan. Dan tidak ada foto yang sepadan dengan nyawa manusia.
Tetapi kita juga tidak bisa menghapus kenyataan bahwa jurnalistik, terutama jurnalistik lapangan, memang memiliki sejarah panjang tentang orang-orang yang datang ke tempat berbahaya agar orang lain dapat melihat.
Mungkin karena itulah, ketika sebuah tragedi terjadi kepada jurnalis, kita seharusnya tidak buru-buru mengubah mereka menjadi orang yang “salah karena datang”.
Mereka bukan sekadar orang yang pergi ke tempat berbahaya. Mereka adalah manusia yang sedang bekerja.
Lima jurnalis dan tiga kru kapal yang berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau masih dalam pencarian.
Mereka adalah Muhammad Bagus Khoirunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wadjidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis freelance.
Bersama mereka ada Warta, kapten kapal; Sukarman, ABK; dan Heriyanto, pemandu.
Delapan manusia. Delapan nama. Delapan kehidupan. Dan di tempat yang berbeda, ada delapan keluarga yang hari-hari ini menjalani waktu dengan perasaan yang sulit kita bayangkan.
Ada rumah yang menunggu suara pintu terbuka. Ada telepon yang terus dilihat. Ada pesan yang mungkin berkali-kali diperiksa. Ada ibu, ayah, pasangan, anak, saudara, teman, dan rekan kerja yang berharap satu hal sederhana: “Pulanglah.”
Kita sering berbicara tentang jurnalis sebagai profesi. Tentang berita. Tentang foto. Tentang deadline. Tentang eksklusivitas. Tentang rating. Tentang halaman depan. Tentang viral.
Tetapi dalam situasi seperti ini, semua kata itu mendadak menjadi kecil. Karena sebelum mereka menjadi jurnalis, mereka adalah manusia.
Dan sebelum foto mereka menjadi berita, mereka adalah seseorang yang mungkin pagi harinya masih berpamitan kepada keluarganya. Mungkin masih bercanda dengan teman.
Mungkin masih menerima pesan di ponsel. Mungkin masih punya rencana untuk pulang malam itu. Kita tidak tahu.
Dan karena kita tidak tahu, mungkin yang paling manusiawi sekarang bukan mencari siapa yang harus disalahkan. Bukan bertanya mengapa mereka datang. Bukan pula menghakimi keberanian mereka dari tempat yang aman.
Tetapi berharap. Berharap kepada laut agar mengembalikan mereka. Berharap kepada waktu agar masih memberi kesempatan.
Berharap kepada para pencari agar menemukan jejak. Dan berharap kepada Tuhan agar delapan orang yang sedang dicari itu masih berada dalam perlindungan-Nya.
Bagi kita yang hanya mengenal mereka lewat berita, mungkin nama-nama itu hanya delapan nama. Tetapi bagi seseorang, mereka adalah anak. Bagi seseorang, mereka adalah ayah.
Bagi seseorang, mereka adalah suami. Bagi seseorang, mereka adalah saudara. Bagi seseorang, mereka adalah sahabat terbaik. Dan bagi kami yang bekerja di dunia jurnalistik, mereka adalah rekan.
Hari ini mungkin kita tidak bisa melakukan banyak hal. Kita tidak berada di laut. Kita tidak berada di kapal pencarian. Kita tidak membawa peralatan SAR.
Tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu yang sederhana: Berhenti sejenak dari layar. Letakkan ponsel. Dan doakan mereka.
Semoga Arbas, Yudis, Daus, Donal, Bagus, Warta, Sukarman, dan Heriyanto segera ditemukan. Semoga mereka masih bisa melihat matahari berikutnya.
Semoga mereka masih bisa mendengar suara orang-orang yang mereka cintai. Semoga mereka masih bisa membuka pintu rumah masing-masing. Semoga mereka masih bisa memeluk keluarga. Semoga mereka masih bisa pulang.
Karena di balik setiap foto yang kita lihat, ada manusia. Dan tidak ada sebuah foto, tidak ada sebuah berita, tidak ada sebuah deadline, yang lebih berharga daripada seorang manusia yang kembali pulang kepada orang-orang yang mencintainya.
Penulis : Hendra Eka
Pewarta Foto di Depok.
Editor : Ali Masduki