Memotret itu gampang. Tinggal angkat kamera, bidik, lalu tekan tombol. Tapi menghasilkan foto jurnalistik yang bercerita, tentu perkara lain.
Foto jurnalistik bukan sekadar gambar. Ada informasi di dalamnya. Ada peristiwa yang ingin disampaikan kepada publik. Karena itu, foto perlu dilengkapi keterangan dan disalurkan melalui media, baik koran, situs berita, maupun media sosial.
Di era digital, kerja fotografer justru semakin menarik. Ruang untuk bereksperimen terbuka lebar. Untuk website, fotografer bisa menyiapkan foto horizontal.
Sementara untuk media sosial, format vertikal menjadi pilihan yang tak bisa diabaikan. Sudut pengambilan gambar pun perlu dibuat lebih beragam.
Setidaknya ada tiga angle dasar yang perlu dikuasai: eye level, high angle, dan low angle. Selain tiga itu, masih banyak lagi dengan istilah yang beragam. Masing-masing memberi rasa yang berbeda pada sebuah foto. Di sinilah fotografer tidak hanya memotret, tetapi juga memilih cara bercerita.
Lalu, bagaimana mendapatkan foto yang bagus? Pertama, kenali kamera sendiri. Jangan sampai sibuk mencari tombol ketika momen sudah lewat. Pahami juga lokasi dan karakter objek yang akan dipotret.
Yang tak kalah penting, jangan malu dan jangan ragu. Tetapi keberanian memotret tetap harus dibarengi sopan santun. Fotografer datang untuk merekam peristiwa, bukan mengganggu peristiwa.
Dan satu lagi: jangan lapar. Perut kosong bisa membuat konsentrasi berantakan.
Selebihnya, tetap tenang, belajar dari fotografer yang lebih berpengalaman, lalu terus berlatih. Sebab, foto bagus tidak lahir hanya karena kamera bagus. Ia lahir dari mata yang peka, keberanian menangkap momen, dan kebiasaan terus mencoba.
Ulasan: Ali Masduki
Divisi SDM Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Surabaya
Editor : Redaksi