BERITAFOTO.ID - Kita sedang memasuki zaman ketika mata manusia tidak lagi cukup untuk membuktikan kebenaran sebuah gambar.
Sebuah foto yang tampak begitu nyata bisa saja tidak pernah terjadi. Wajah yang terlihat meyakinkan dapat merupakan hasil rekayasa. Sebuah kerumunan, suasana bencana, bahkan sebuah peristiwa politik dapat diciptakan tanpa seorang pun pernah berada di sana.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membuat batas antara kenyataan dan rekayasa visual menjadi semakin tipis.
Bagi industri kreatif, ini mungkin sebuah kemajuan. Bagi fotografi, ia menawarkan banyak kemungkinan baru. Tetapi bagi jurnalistik, perkembangan ini sekaligus membawa pertanyaan yang jauh lebih serius: ketika gambar tidak lagi bisa dipercaya hanya karena terlihat nyata, kepada siapa publik harus percaya?
Pertanyaan itu tidak sederhana. Foto jurnalistik sejak awal bukan sekadar perkara estetika. Ia adalah kesaksian. Seorang pewarta foto datang ke lokasi, melihat peristiwa, menghadapi situasi, kemudian merekamnya dengan kameranya. Ada manusia di balik sebuah foto.
Ada keputusan untuk berada di tempat tertentu. Ada keberanian untuk mendekat. Ada risiko. Ada konteks. Dan ada tanggung jawab bahwa apa yang disajikan kepada publik memang berangkat dari kenyataan.
AI tidak memiliki pengalaman itu. Karena itu, ketika teknologi mampu menghasilkan gambar yang semakin menyerupai foto nyata, yang sesungguhnya sedang diuji bukan kemampuan kamera, melainkan integritas manusia di belakang kamera.
Ketika Mata Mudah Ditipu
Dalam sebuah lokakarya Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Batam, saya mencoba menguji peserta dengan memperlihatkan sejumlah gambar dan meminta mereka membedakan mana foto jurnalistik dan mana hasil manipulasi AI. Sebagian peserta terkecoh.
Bagi saya, ini bukan sekadar permainan menebak gambar. Ini adalah gambaran tentang persoalan yang akan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat semakin sering menerima informasi melalui layar ponsel. Gambar muncul bersamaan dengan judul, potongan video, komentar, dan ribuan tanda suka. Semuanya berlangsung cepat.
Dalam situasi seperti itu, manusia cenderung mempercayai apa yang terlihat. Masalahnya, yang terlihat belum tentu yang terjadi.
Jumlah like bukan ukuran kebenaran. Banyaknya orang yang membagikan sebuah gambar juga bukan bukti bahwa peristiwa dalam gambar tersebut benar-benar terjadi.
Justru ketika sebuah informasi terasa terlalu mengejutkan, terlalu emosional, atau terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan, kita seharusnya berhenti sejenak.
Periksa sumbernya. Cari konteksnya. Bandingkan dengan pemberitaan media yang kredibel. Dan jika tidak menemukan dasar yang cukup untuk mempercayainya, tidak ada kewajiban untuk ikut menyebarkan.
Dalam era banjir informasi, kemampuan mengatakan “saya tidak tahu apakah ini benar” justru menjadi bentuk kedewasaan.
Etika Tidak Bisa Di-Generate
Perdebatan tentang AI dalam fotografi sering berhenti pada pertanyaan teknis: sejauh mana AI boleh digunakan?
Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa AI digunakan? AI dapat membantu pekerjaan teknis. Teknologi dapat membantu memperbaiki aspek tertentu dari sebuah gambar. Fotografer memang selalu menggunakan teknologi untuk menyempurnakan hasil kerja.
Tetapi ada garis yang tidak boleh dilewati dalam jurnalistik: teknologi tidak boleh mengubah fakta.
Kita bisa memperbaiki persoalan teknis, tetapi tidak boleh menciptakan fakta baru. Kita boleh memperbaiki kualitas tampilan, tetapi tidak boleh menghilangkan unsur yang mengubah pemahaman publik terhadap sebuah peristiwa.
Kita boleh menggunakan teknologi untuk membantu pekerjaan, tetapi tidak boleh menggunakannya untuk membuat sesuatu yang tidak pernah terjadi lalu menyajikannya sebagai kenyataan.
Di titik itulah persoalannya berubah dari teknologi menjadi etika. Dan etika tidak bisa di-generate oleh AI.
Mesin dapat menghasilkan gambar dalam hitungan detik. Mesin dapat mengenali pola. Mesin dapat meniru gaya visual. Mesin bahkan dapat menghasilkan sesuatu yang secara estetis lebih sempurna daripada kemampuan manusia.
Tetapi mesin tidak memiliki tanggung jawab jurnalistik terhadap korban yang ada di dalam foto. Ia tidak harus berhadapan dengan keluarga korban. Ia tidak harus menjelaskan kepada publik dari mana sebuah gambar berasal. Ia tidak harus mempertanggungjawabkan sebuah kesaksian. Manusialah yang harus melakukannya.
Nilai Foto Ada pada Momen
Di tengah perdebatan tentang AI, kita juga perlu mengingat sesuatu yang sangat mendasar dalam fotografi jurnalistik: momen tidak dapat diulang.
Seorang fotografer bisa memiliki kamera terbaik dan kemampuan teknis yang sangat baik. Tetapi kamera terbaik tidak otomatis menghasilkan foto jurnalistik yang bermakna.
Sebab fotografi jurnalistik bukan hanya tentang bagaimana menekan tombol rana. Ia tentang berada di tempat yang tepat ketika sesuatu terjadi. Tentang kemampuan membaca situasi. Tentang keberanian menunggu. Tentang kepekaan melihat manusia di balik sebuah peristiwa. Dan yang paling penting, tentang keputusan untuk merekam kenyataan sebagaimana adanya.
AI dapat menciptakan gambar tentang sebuah bencana. Tetapi AI tidak berada di tengah bencana ketika air naik, rumah runtuh, atau seorang ibu mencari anggota keluarganya. AI dapat membuat gambar tentang penderitaan. Tetapi AI tidak menyaksikan penderitaan itu. Di situlah perbedaan mendasarnya.
AI dapat menghasilkan representasi tentang kenyataan. Pewarta foto memberikan kesaksian tentang kenyataan. Keduanya bukan hal yang sama. Foto yang Benar Pun Bisa Menjadi Bohong.
Ancaman terhadap kebenaran visual sebenarnya tidak hanya datang dari AI. Sebuah foto yang benar pun dapat digunakan untuk menghasilkan informasi yang salah.
Foto lama dapat diberi keterangan baru. Foto dari satu lokasi dapat diklaim berasal dari lokasi lain. Peristiwa yang berbeda dapat digabungkan melalui narasi yang keliru.
Artinya, persoalan kebenaran dalam fotografi tidak berhenti pada apakah gambar itu asli atau palsu.
Konteks juga merupakan bagian dari kebenaran. Karena itulah takarir foto menjadi sangat penting.
Foto jurnalistik tanpa keterangan yang memadai membuka ruang bagi tafsir. Takarir memberikan konteks tentang apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung.
Sebuah foto bisa seribu kata, tetapi seribu kata itu tetap harus benar. Di sinilah tanggung jawab pewarta foto tidak berhenti ketika tombol kamera ditekan. Tanggung jawab berlanjut ketika foto dipilih, disunting, diberi keterangan, kemudian dipublikasikan.
Yang Dipertaruhkan Bukan Foto, Melainkan Kepercayaan.
Kita mungkin terlalu sibuk membicarakan apakah AI akan menggantikan fotografer. Bagi saya, pertanyaan itu bukan yang paling mendesak. Yang jauh lebih penting adalah apakah masyarakat masih dapat mempercayai gambar yang mereka lihat.
Jika semua gambar bisa direkayasa, semua foto bisa dicurigai, dan semua peristiwa visual dianggap mungkin palsu, maka yang terancam bukan hanya profesi pewarta foto. Yang terancam adalah kepercayaan publik terhadap dokumentasi jurnalistik. Dan sekali kepercayaan itu runtuh, membangunnya kembali tidak mudah.
Karena itu, di tengah kemajuan teknologi, profesi jurnalistik justru membutuhkan sesuatu yang sangat lama: disiplin, verifikasi, transparansi, dan nurani.
Teknologi akan terus berubah. Kamera akan semakin pintar. Perangkat lunak akan semakin canggih. AI akan semakin mampu membuat gambar yang sulit dibedakan dari kenyataan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ikut berubah: komitmen untuk tidak membohongi publik. Kita tidak perlu memusuhi AI. Kita juga tidak perlu takut pada teknologi.
Gunakan AI sebagai alat. Manfaatkan teknologi untuk membantu pekerjaan. Tetapi jangan pernah menyerahkan keputusan etis kepada mesin. Sebab kamera boleh menjadi alat untuk merekam kenyataan. AI boleh menjadi alat untuk mengolah gambar.
Namun, yang menentukan apakah sebuah karya masih layak disebut jurnalistik adalah manusia yang memilih untuk jujur.
Pada akhirnya, publik tidak membutuhkan foto yang paling sempurna. Publik membutuhkan foto yang dapat dipercaya.
Dan ketika mata manusia semakin mudah ditipu oleh gambar buatan mesin, nurani justru harus menjadi teknologi terakhir yang tidak boleh kita matikan.
Ulasan: Hendra Syamhari
Koordinator Wilayah Pewarta Foto Indonesia (PFI) Sumatera
Editor : Ali Masduki